Membuat Kalimat Efektif


Bagikan :




Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan. Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan.

Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.

A. Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:

Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
  • Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah)
  • Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)
Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
  • Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
  • Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
  • Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
  • Saat itu bagi saya kurang jelas.
Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
  • Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
  • Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut:
  • Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Atau Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
  • Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki. Atau Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
  • Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
  • Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
  • Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
  • Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.
B. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
  • Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
  • Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
  • Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut.
  • Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
C. Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.

Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
  • Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
  • Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden. Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
  • Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
  • Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
  • Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
  • Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
  • Saudaralah yang bertanggung jawab.
D. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
  • Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
  • Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
  • Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
  • Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Perhatikan:
  • Ia memakai baju warna merah.(Kata merah sudah mencakupi kata warna.)
  • Di mana engkau menangkap burung pipit itu?(Kata pipit sudah mencakupi kata burung)
Kalimat itu dapat diubah menjadi
  • Ia memakai baju merah.
  • Di mana engkau menangkap pipit itu?
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
  • Budi naik ke atas atap rumah. (ata naik bersinonim dengan ke atas)
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
  • Budi naik ke atap rumah
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Misalnya:
  • Para tamu-tamu = para tamu.
  • Beberapa orang-orang = beberapa orang.
E. Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
  • Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat ini memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi.
  • Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat ini memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut.
  • Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
  • Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
F. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak 
    simetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
    Misalnya:
    Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah 
    terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak 
    keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
2. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam 
     kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
     a. Surat itu saya sudah baca.
     b. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
     Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan 
     verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk
     a. Surat itu sudah saya baca.
     b. Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
3. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang 
    antara predikat kata kerja dan objek penderita.
    Perhatikan kalimat ini :
    a. Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
    b. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
    Seharusnya:
    a. Mereka membicarakan kehendak rakyat.
    b. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

G. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
  • Bapak penceramah, waktu dan tempat saya persilakan. 
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
  • Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
Berikut ini beberapa contoh kalimat tidak efektif dan perbaikannya :
  • Bagi semua karyawan  dan karyawati yang hadir dalam rapat hari ini harus membuat laporan ( tidak efektif ). Seharusnya :Semua yang hadir dalam rapat kali ini harus membuat laporan
  • Rumah saya yang berada di jalan pancasan bogor ( tidak efektif ). Seharusnya : Rumah saya berada di jalan pancasan bogor.
  • Karena ia tidak datang, dia tidak di pilih dalam acaran itu. ( tidak efektif ). Seharusnya : Karena tidak datang, ia tidak dipilih dalam acara itu.
  • Hadirin serentak berdiri ketika mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya.( tidak efektif ). Seharusnya : hadirin serentak berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. 
  • Dia datang dengan hanya membawa dirinya sendiri. ( tidak efektif ). Seharusnya : Dia datang hanya membawa dirinya sendiri.
  • Sejak dari kemarin dia hanya diam saja. ( tidak efektif ). Seharusnya : Sejak kemarin dia hanya diam saja.
  • Kabar itu sudah saya dengar semenjak saat kejadian itu berlangsung. ( tidak efektif ). Seharusnya : Kabar itu sudah saya dengar sejak kejadian itu berlangsung. 
  • Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif ). Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
  • Mereka membicarakan dari pada kenaikan harga Minyak Tanah. ( tidak efektif ) Seharusnya : Mereka membicarakan kenaikan harga Minyak Tanah.
  • Dia sudah di terima kerja di perusahaan bonavit itu. ( tidak efektif ) Seharusnya : Dia sudah diterima bekerja di perusahaan bonavit itu

Ditulis oleh: Tugino
Media Belajar Diperbarui pada: Wednesday, October 24, 2012

0 comments:

Terima kasih atas kunjungan anda. Media Belajar

Post a Comment